Pesona Wolio-Pulau Buton

Rabu, 12 September 2012

Merasakan Eksotisme Pantai Katembe Saat Mudik Lebaran

By : Hasmina Syarif


Selain pantai Nirwana yang selama ini dikenal oleh masyarakat kota Baubau-Sulawesi Tenggara dan sekitarnya, rupanya masih terdapat beberapa pantai indah lainnya yang tersebar di pesisir pulau Buton yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Baubau jika ditempuh dengan menggunakan jalur laut maupun darat. Salah satu pantai nan indah tersebut bernama "Pantai Katembe" yang selama ini baru dikenal dan hanya akrab ditelinga masyarakat lokal disekilingnya.

Pantai yang belum begitu dikenal dan menyimpan potensi wisata alam yang indah, mempesona, dan layak mendapat perhatian lebih oleh para pencinta wisata alam, dan tentu juga perhatian pemerintah tersebut, terletak di desa Boneoge kecamatan Lakudo yang berjarak kurang lebih 4 km dari pelabuhan ferry di Wamengkoli, telah menjadikan pantai itu memberi akses mudah untuk ditempuh bagi setiap orang yang berkeinginan berwisata di tempat itu. 



Untuk mencapai pantai tersebut dari kota Baubau, harus menggunakan kapal ferry menuju Wamengkoli dengan waktu tempuh +/- 15 menit, kemudian perjalanan selanjutnya  menggunakan kenderaan darat menuju pantai Katembe yang membutuhkan waktu tempuh dalam +/-20 menit.  

Indahnya pasir putih di Katembe Beach

Dalam mudik tahun ini, sesuai rencana awal kami sejak mengetahui tempat itu dari seorang teman facebook, maka saat kami meninggalkan kota Jakarta menuju kampung halaman Kota Baubau yang kami rindukan dan sejak 4 tahun terakhir tidak pernah melakukan aktifitas mudik, telah mengagendakan untuk berwisata ke pantai yang menjanjikan eksotisme dan panorama indah yang ditawarkan pantai tersebut .

Sengaja kami memilih wisata pantai sebagai salah satu aktifitas mudik kami tahun ini, karena disamping wisata pantai  merupakan kegemaran yang sangat efektif untuk menghilangkan kepenatan, juga karena pantai yang alami sangat sulit ditemukan di pulau Jawa khususnya di sekitar pesisir Daerah Khusus Ibukota Jakarta tempat saya dan keluarga bermukim. 

Kami bersyukur karena dalam perjalanan kami menuju tempat itu, terkesan mendapatkan kemudahan karena dalam perjalanan turun dari kapal ferry yang kami tumpangi dari Baubau menuju Wamengkoli tiba-tiba disapa oleh seseorang lelaki berpakain sipil, dengan mimik yang seolah-olah mengenal kami secara dekat.Ketika saya memperhatikan lelaki tersebut, ternyata beliau adalah teman yang juga pernah tinggal di Jakarta. Beliau menyapa kami dengan kalimat “ mau kemana ?”, dengan spontan saya menjawab mau berwisata di “pantai katembe” bersama keluarga.

Rupanya Tuhan telah memudahkan perjalanan wisata kami, saya merasa legah ketika teman saya tersebut menjelaskan kepada kami bahwa secara kebetulan beliau baru saja dua hari bertugas sebagai kepala desa di tempat yang kami akan kunjungi tersebut, tepatnya "Pantai Katembe" yang masih merupakan wilayah desa yang dipimpinnya. Nama beliau adalah Pak Asdar M. kepala desa Boneoge, dan kami diberi penjelasan yang bermanfaat, menyangkut hal-hal yang  memudahan perjalanan kami dalam mencapai lokasi pantai tersebut.

Dengan menggunakan kendaraan roda empat menuju tempat tersebut, melewati beberapa pedesaan dengan kondisi jalan yang sedikit kurang bersahabat karena kondisi jalanan beraspal yang melintasi beberapa perkampungan rusak berat. Kondisi ini menyebabkan seluruh badan dan bahu jalan berdebu padat ketika dilindas roda kenderaan yang kami tumpangi. Pemerintah nampaknya sudah melakukan pengaspalan secara menyeluruh namun ada indikasi teknis bahwa semua ini terjadi karena bobot pengaspalan jalan yang kurang berkualitas, sehingga menyebabkan umur teknis jalan menjadi pendek.

Kondisi keadaan kenderaan selama perjalanan yang meliuk-liuk disertai debu kotor berterbangan rupanya tidak mampu membendung hasrat kami untuk insist sekalai mendatangi tempat itu.  Dan syukur Alhamdulillah pada akhirnya pantai “Katembe” yang sejak dari Jakarta telah menjadi agenda kami sekeluarga untuk berkunjung kini telah tekabul dan menjadi kenyataan.

Ketika kami menginjakan kaki di tempat itu, kami sungguh terkesan karena apa yang kami tahu tentang pantai “katembe” via catatan di facebook rekan saya, sungguh telah menawarkan keindahan dengan pasir putih yang cantik dan menyenangkan, air laut yang jernih dengan suasananya yang indah, gemercik ombak yang merdu serta tiupan angin yang sangat sejuk, pohon pohon yang bergoyang dengan lembutnya membuat kami sekeluarga bahkan siapapun yang berkunjung akan betah untuk berlama-lama di tempat ini.

Apalagi ketika mengarahkan pandangan kami ke lautan jernih 
yang kebiru-biruan yang  jauh dari kesan tercemar, nampak gulungan ombak putih yang indah seakan saling berlomba dan berebut, siapa yang akan sampai duluan kepesisir pantai untuk  menyambut menyapa siapapun pun yang datang kesini.

Bagi mereka yang menginginkan ketenangan alam yang sejuk, sangat tepat mengunjungi pantai ini menikmati suasan alam yang masih asri, melihat deburan ombak yang sedang, dengan garis pantai panjang yang menghadap ke arah barat.  Di area ini dapat menawarkan ketenangan dan kenyamanan bagi yang suka menikmati matahari senja (sunset) maka katembe adalah tempat yang sangat tepat.

Dari hasil pengamatan kami, Pantai Katembe ternyata tidak kalah menarik untuk dikunjungi di banding pantai lainnya di Pulau Buton seperti pantai Nirwana yang selama ini menjadi primadona wisata pantai bagi masyarakat yang bermukim di kota Baubau dan sekitarnya.  

Pantai Katembe yang kami kunjugi kali ini benar-benar meyakinkan  saya dan keluarga karena merupakan salah satu obyek wisata pantai yang sangat indah, eksotis dengan kondisinya yang masih sangat serba alami dan berpotensi untuk dikembangkan, lebih-lebih jika pemerintah daerah memberikan perhatian khusus untuk menjadikan tempat ini sebagai area wisata yang potensial dan bernilai ekonomi.

Sungguh, apa yang kami saksikan, membuatku semakin sadar bahwa betapa besar kuasa-Nya sehingga tidak ada yang bisa kami ucapakan, selain dengan ucapan “sungguh indah ciptaanmu ya Allah”. Betapa aku suka memandang indahnya pantai, mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan.

Namun, kesempatan untuk berlama-lama mengagumi keindahan ciptaan-Nya semakin terkikis karena tanpa sadar hari telah senja bertanda matahari akan cenderung terbenam, dan saya harus mengingatkan kepada anggota keluarga agar semua harus bersiap dan berkemas-kemas terhadap barang bawaan, sebagai tanda bahwa kita harus kembali untuk melakukan perjalanan pulang ke kota Baubau.
Menunggu Kapal Ferry di Pelabuhan Wamenkoli

Mudik dan liburan kali ini memberikan dampak yang besar pada keluarga saya untuk mengetahui kekayaan dan keindahan alam  daerah dimana orang tua dibesarakan serta dapat mewujudkan kebersamaan keluarga besar dan keriangan yang tercipta saat setiap anggota keluarga begitu klop satu sama lain, tanpa menghiraukan sedikit perbedaan yang ada.

5 komentar:

  1. wah enak yach bisa pulkam he he he

    Salam dari temanmu untuk keluarga dari timur jakarta ( Lippo-Cikarang )AR- 0812 1902 6298.

    BalasHapus
  2. bawah gurita atau handuk sih Jeng, kelihatannya berat amat, jadi di pantai itu ada acara bakar bakar toh.......wah kalau pulkam ajak ajak dong.....biar rame ngitu he he he, kali bisa nambah suasana rame di pantai itu....Regards Ar

    BalasHapus
  3. Hehehe....alhamdulillah bisa dapet respond dari teman yang selama ini menghilang. Btw apa kabar bos, anak sudah berapa & apakah bermukin di Cikarang juga???, kok tinggal di timur jakarta jarang2 kumpul2 sama orbut di jakrta sih..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya saya memang tinggal di lippo-Cikarang, udah lama kok biasa dekat kantor saja, mengenai kumpul kumpul kami sering kok, cuma area kami adalah Bekasi ketimur, rawa panjang, cilengsi, bogor purwakarta sampai bandung, dengan nama IKPBM ( Ikatan keluarga besar putra daerah Buton dan Muna ) berdiri sejak 2004, dengan jumlah anggota sampai saat bini 850 an orang semua usia produktif dan karyawan baik swasta maupun abri & Peg. Negri, untuk kumpul dgn orang Buton juga sering kok termasuk kita ikut Arisan Buton sama mereka Ridman, karena Kerja saya banyakan di Daerah Oil & Gas Sector yang harus keluar daerah saya jarang ikutan, baru baru ini juga adakan..? acara arisan di Ld. Mahbudu di Cempaka Putih saya juga dapat tuch undangan cuma saya lagi di Thailant Oil North Pailin, nach cuma Jeng Hasmina saja tidak Pernah saya lihat.

      Trus Apa mi kabarnya Mas Syarif, suatu saat dulu bangat saya iseng waktu pulang saya maen ke Rumah La Atok dia masih diBure saya lihat Mas Syarif lewat mau ke Laut mancing kali....., oh iya saat ini La Atok kalau ke Jakarta sering bangat call Saya kita janjian oh Iya bulan lalu saya di Kaltim, ke Primier Oil, juga ketemu M. Noor anak Batulo kawan Mbakmu dulu, istrinya kan sudah meninggal kini dia bersolo karier lho he he,,he,,

      Aduh sampai lupa tinggal di Daerah Mana Jeng, menurut info saya dengar dari Ida Hapsa katanya dekat dekat Cempaka putih itu yach....
      Mau nanya nich
      1. masih ingat lagunya..aduh lupa lagi penyanyinya orang malaysia IKLIM kalau kangak salah sih itu lho syairnya " Suatu hari nanti pasti akan bertemu..,,,,,,,)
      2. Sepertinya ada kawan kuliah saya dulu namanya Ria
      satu kerjaan sama Mas syarif apa iya yach
      3. Saya terahir bareng Mas-mu di Bandung zaman dulu mereka masih kuliah saya tidur di kosnya, waktu itu dia pakai Motor yamaha RXS coba tanya benar nggak
      Ok salam sejahtra untuk keluarga....dari Timur Jakarta

      Wassalam,,, AR.

      Hapus
  4. Hehehehe....Alahmdulillah bisa ketemu juga yah, sama sahabat lama.

    BalasHapus

Blog Toudhani -Wolio Molagi© All Rights Reserved
Hasmina Syarif