Pesona Wolio-Pulau Buton

Kamis, 24 Januari 2013

Pemerintah Harus Serius Membangun Kebudayaan


Salah satu kegagalan Orde Baru (ORBA) dalam mengwujudkan cita-cita pembangunan manusia Indonesia seutuhnya adalah karena mengabaikan pembangunan kebudayaan. Penafian kebudayaan dalam pembangunan selama puluhan tahun di negeri ini telah menimbulkan berbagai persoalan kemanusiaan pada diri bangsa Indonesia. 


Kemiskinan, ketidakadilan, kemunafikan, korupsi, nepotisme, dan saling menzalimi satu sama lain dalam berbangsa dan bernegara adalah punca dari tidak terbangunnya nilai-nilai kebudayaan masyarakat. Kesadaran pemerintah terhadap pentingnya pembangunan kebudayaan dalam proses pembangunan  tampak makin surut. Akibatnya, Indonesia nyaris menjadi negeri multi masalah tak kunjung usai.

Masalah yang dihadapi bangsa ini terus beranak-pinak. Masalah yang satu belum selesai, masalah lain yang menyita perhatian publik terus muncul secara bersamaan. Menyelesaikan masalah bangsa di negeri ini ibarat orang memukul iblis, semakin dipukul semakin jadi anak-anak iblis lainnya. Kalau demikian kondisinnya terus-menerus, kapan bangsa ini dapat memikirkan lompatan kemajuan untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri republik ini. Cita-cita untuk membawa Indonesia menjadi negeri yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat tampaknya makin sayup-sayup sampai ke tujuan.

 Dan secara kebudayaan kita juga tidak tahu kemana bangsa ini hendak dibawa, apakah akan menjadi masyarakat-bangsa industialis dengan segala kesiapannya, atau akan terus bertahan sebagai masyarakat agraris, juga tidak jelas visi budaya yang dibangunnya.  Kegamangan budaya ini telah membuat bangsa kita terombang-ambing dalam berbagai prodak gaya hidup material kapitalistik yang cenderung makin menghilangkan indentitas keindonesiaan dalam berbangsa. Akibat dari itu, bangsa yang sebelumnya memiliki rasa sosial yang tinggi, penuh kegotongroyongan, kini menjadi bangsa yang cenderung mencari selamat sendiri-sendiri.

            Pemerintah masih berfikir membangun kebudayaan hanya cukup dengan   memparbanyak even kesenian dan festival-festival tradisi dengan alasan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa. Dengan cara itu seakan-akan pemerintah sangat peduli tarhadap pembangunan kebudayaan. Padahal membangun kebudayaan tidak hanya sebatas memperbanyak even  kesenian, upacara adat dan festival-festival tradisi demi untuk kepentingan pariwisata semata. Membangun kebudayaan adalah membangun  semua tolitas aktifitas kehiduapan manusia yang berlaku dalam suatu ruang dan suatu waktu.

            Membangun kebudayaan adalah membangun moral, membangun perilaku, dan akhlak bangsa untuk mematuhi aturan-aturan negara, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dalam segala aspek kehidupan. Membangun kebudayaan jangan hanya diterjemahkan pada upaya pelestarian wayang atau dengan memperbanyak upacara tradisi semata. Jangan dikira membangun kebudayaan tidak ada hubungannya dengan pembangunan ekonomi, pulitik, hukum, sosial keagamaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Semua sektor itu harus dibangun dengan landasan budaya kuat. Pembangunan ekonomi yang tidak berakar pada budaya moral yang baik tidak akan membawa keberhasilan bagi kesejahteraan rakyat. Pembangunan keadilan (hukum) yang tidak dilandasi moral dan etika yang bagus akan menimbukkan mavia hukum yang dapat memperjualbelikan keadilan itu sendiri. 

Demikian pula membangun pendidikan, jika sistem pendidikan tidak diubah dari paradikma  budaya pendidikan hafalan menjadi budaya pendidikan yang berwawasan bagi anak didik, maka pendidikan yang kita kembangkan saat ini tak ubah seperti melatih binatang untuk pintar dalam sebuah arena sirkus, yang harus selalu patuh pada pawangnya. Artinya, Kita mendidik anak bangsa hanya untuk trampil dalam arena perebutan peluang kerja tanpa wawasan dan penguasaan ilmu secara kritis. Kalau lainnya mungkin bisa dikutak-katik dan disulap untuk kepentingan politik sesaat bagi sekelompok orang. Tapi tolong pendidikan hendaknya jangan dipolitisir dengan memperlemah daya kritis anak didik sebagai aset penerus bangsa. 

Jelasnya,  selama peran budaya masih dianggap tidak penting dalam membangun bangsa, selama itu pula bangsa ini akan sangat sulit untuk bangkit dan bergerak maju. Apalagi untuk melompat  mensejajarkan diri dengan kemajuan bangsa-bangsa lain. Tak usah jauh, selama ini mungkin kita bertanya-tanya mengapa negara jiran Malaysia begitu cepat bangkit dari ketertinggalannya. Padahal di era 1990-an Malaysia masih harus belajar banyak pada Indonesia dalam segala bidang pembangunan. Utamanya pendidikan, hal ini terlihat pada era 1980-an hingga pertengahan 1990-an tidak sedikit putra-putri Malaysia yang belajar di berbagai Perguruan Tinggi Indonesia. Rupanya saat itu Malaysia sudah mulai banting stir mengalihkan  strategi pembangunan negaranya dengan memanfaatkan peran budaya sebagai landasan gerakan pembangunannya. 

Hebatnya, strategi budaya pembangunan yang digerakkan Mahathir Muhammad dalam membangun Malaysia yang dikenal dengan “Visi Malaysia 2010”, ternyata jauh sebelum memasuki  2010, visi pembangunan Malaysia yang dicita-citakan Madhadir Muhammad untuk memajukan dan memakmurkan nagaranya telah lebih dulu tercapai dari yang ditergetkan. Ini berarti peran budaya dalam mengerakkan pembangunan bangsa adalah suatu yang tidak bisa dinafikan oleh pemerintah yang berkuasa.

Pembangunan dengan memanfaatkan peran budaya dalam membentuk kemajuan manusia saat ini, telah menjadi tren pembangunan yang dipraktekkan oleh banyak negara di dunia, terutama oleh negera-negara yang pernah rusak akibat Perang Dunia II. Penutasan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan yang melanda negera-negera yang terpuruk akibat Perang Dunia II, seperti sebagian negara-negara di Afrika, Amerika Latin dan Asia, dalam waktu yang tidak terlalu lama—ketika mengalihkan perhatian pembangunan negeranya dengan memanfaatkan peran budaya—ternyata meraka berhasil bangkit menjadi negara yang maju dan makmur.

Spanyol, Portugis, Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan Hongkong, serta Malaysia, adalah negara-negara yang dicontohkan Lawrence E. Harrisong (2006) sebagai negera yang berhasil bangkit secara mengejutkan setelah Jepang, karena memanfaatkan peran budaya dalam menuntaskan persoalan negeranya mulai dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan dan penegakan demokrasi, semua itu berhasil tutaskan dengan memanfaatkan peran budaya dalam mereka membangun negeranya.

 Konsep peran budaya dalam membangun bangsa—sebagaimana yang menjadi strategi pembangunan negera-negera yang berhasil  bangkit di dunia dari ketertinggalannya saat ini—sebenarnya telah diperkenalkan pakar ilmuan sosial Soedjatmoko pada bangsa Indonesia sejak akhir 1950-an. Sejak itu Seodjatmoko hingga akhir hayatnya (1922-1989) tak henti menyurakan pentingnya peran kebudayaan dalam membangun negera-bangsa Indonesia. Setidaknya, pembangunan yang dilaksanakan pemerintah Indonasia menurut Soedjatmoko harus seimbang antara pembangunan fisik material dangan pembangunan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan. Hal ini penting dilakukan untuk tercapainya tujuan dan cita-cita pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

 Sayangnya, konsep membangun Indonesia yang disuarakan Soedjatmoko ini menjadi berseberangan dengan konsep politik pembangunan pemerintah Orde Baru kala itu. Akibatnya, dalam perjalanan pembangunan bangsa Indonesia, hingga hari ini hampir tak henti bangsa kita berhadapan dengan berbagai persoalan sosial kemanusian sebagai dampak dari kesalahan pembangunan yang tidak mengikutsertakan peran kebudayaan di dalamnya.

 Sekarang malah orang-orang yang menyuarakan pentingnya peran kebudayaan dan pembangunan bangasa hampir tak terdengar lagi di negeri ini. Dulu selain Soedjatmoko, ada Sutan Takdir Alisyahbanna (baca polemik kebudayaan), ada Koentjaraningrat,  Muchtar Lubis, Umar Kayam, dan YB. Mangunwijaya. Mereka adalah anak bangsa yang sangat besar perhatian pada pentingnya peran kebudayaan dalam pembangunan bangsa dan negara.

Jika peran kebudayaan memiliki andil  bersar dalam keberhasilan pembangunan bangsa, seperti yang dipraktekkan oleh negara-negera tertinggal di dunia saat ini, dan terbukti mereka berhasil bangkit dari ketertinggalannya  dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka pemerintah Indonesia juga harus banting stir mengalihkan strategi pembangunannya dari yang selama ini terfokus pada pembangunan fisik material semata, menjadi pembangunan berwawasan kebudayaan dalam arti universal.* (Nab Bahanya As, budayawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Toudhani -Wolio Molagi© All Rights Reserved
Hasmina Syarif