Pesona Wolio-Pulau Buton

Senin, 30 Juli 2012

Mengintip Pemikiran Bung Karno Membangun Landmark di Indonesia (Part2)


Edhi Sunarso, pembuat Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Dirgantara dan Patung Pembebasan Irian Barat Lapangan Banteng dalam Tempo Interaktif mengisahkan. Suatu hari pada 1959 Pemimpin Besar Revolusi Soekarno memanggil tiga seniman tersohor: Trubus, Edhi Sunarso, dan Henk Ngantung, yang juga menjabat Gubernur DKI Jakarta. “Saya mau membuat Monumen Selamat Datang untuk menyambut olahragawan Asian Games. Ayo, kau skets.
Bentuknya begini, lho,” kata Presiden Republik Indonesia itu di hadapan mereka seraya mengangkat tangan kanannya, memperagakan orang yang sedang menyapa dari jauh.

Ketiga perupa itu lantas membuat sketsa. Setelah rampung, Soekarno memeriksanya lalu menunjuk Henk. “Kau jadi pengawas pekerjaan ini,” katanya. Lalu ia berpaling ke Edhi dan berkata, “Dhi, kau buat patung setinggi sembilan meter dari perunggu.” Edhi, pematung berusia 27 tahun, terkesiap. “Saya belum pernah bikin patung perunggu, Pak. Jangankan sembilan meter, sepuluh sentimeter saja belum pernah,” kata dosen Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) itu. Soekarno menampiknya. “Kau senang kalau ini saya serahkan ke luar negeri? Tidak malu? Sebagai satu bangsa dan sebagai pejuang, kau harus sanggup. Aku beri waktu seminggu. Kau berembuk dengan kawan-kawanmu di Yogya dan kembali kemari tak ada jawaban selain sanggup. Coba bikin perencanaan tiga dimensinya,” katanya. Pembangunan patung selamat datang ini digagas Bung Karno sebagai lambang keramahan bangsa Inddonesia menyambut para peserta Asian Games pada tahun 1962. Begitulah Bung Karno yang selalu menggugah semangat anak-anak bangsa ini untuk maju, dan Edy beserta kawan-kawannya ternyata mampu mewujudkan maha karya itu yang semula mereka sendiri ragu ketika memulainya.

Selain patung selamat datang, peninggalan bersejarah Bung Karno adalah patung tani yang sebenarnya adalah patung pahlawan yang diresmikan pada tahun 1963 yang dibawahnya terdapat plakat yang berbunyi “Hanya bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya dapat menjadi bang yang besar”. Patung ini merupakan patung pemerintah Uni Soviet untuk Indonesia. Menurut Roso Daras dalam tulisannya, kala itu Presiden Soekarno melakukan kunjungan resmi ke Uni Soviet dan diperkenalkan kepada Matvel Manizer dan Otto Manizer. Diundanglah kedua pematung tersebut oleh Presiden Soekarno ke Indonesia dalam rangka mencari inspirasi mengenai perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Pada saat itu dimaksudkan untuk perjuangan membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Mereka pun mendatangi sebuah desa di wilayah Jawa Barat dan bertemu dengan penduduk setempat. Di desa tersebut kedua pematung ini mendengar sebuah kisah tentang seorang Ibu yang mengantar anaknya menuju medan perang. Sang Ibu memberikan dorongan semangat dan keberanian kepada sang anak untuk bertekad memenangkan perjuangan, dan juga agar selalu ingat akan orang tua dan tanah airnya. Ia kemudaian membekali anak laki-lakinya dengan nasi hasil tanakannya. Begitulah kisah yang mereka dengar dari rakyat di kawasan Jawa Barat. Cerita inilah yang menjadi Inspirasi dan kemudian mereka kembali ke Uni Soviet, kemudian dibuatlah patung itu yang diberi nama Patung Pahlawan.

Pada Tahun 17 Agustus 1963 Bung Karno meresmikan Patung Pembebasan Irian Barat, patung menggambarkan seseorang yang telah bebas dari belenggu. Menurut Roso Daras dalam tulisannya, ide pembuatan patung ini diperoleh Bung Karno ketika Beliau sedang pidato di Yogyakarta dalam menggerakan massa untuk membantu membebaskan saudara-saudaranya di Irian Barat. Yang kemudian diterjemahkan oleh Henk Ngatung dalam bentuk sketsa.


             Patung Dirgantara yang lebih dikenal patung pancoran saat ini, merupakan patung yang dibangun oleh Bung Karno untuk menunjukkan simbol semangat bangsa, keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara yang menekankan kepada pentingnya bangsa Indonesia mengandalkan keberanian, kejujuran dan semangat. Kisah pembangunan patung ini sedikit berbeda dengan pembangunan-pembangunan patung atau landmark lainnya. Pembangunan ini menyisakan cerita pahit dimana ketika Bung Karno diujung tanduk kekuasaan pasca gestok, keberlanjutan pembangunan patung ini tidak digubris oleh suharto dan pembangunan ini sempat mandeg. Akan tetapi Bung Karno bukanlah manusia yang plin plin dan mengajarkan sikap yang kurang bertanggung jawab, di tengah-tengah posisinya di ujung tanduk pasca gestok dan penolakan pertanggung jawabannya di sidang MPRS, begitu besarnya tekanan baik dari dalam maupun luar negeri terhadapnya serta ketidakmampuan keuangan Edhi Sunarso melanjutkan pembangunan patung ini, Bung Karno tetap pada pendiriannya untuk menyelesaikan pembangunan patung dirgantara. Dengan kondisi tersebut Bung Karno merelakan menjual mobil pribadinya untuk melanjutkan pembanguann patung ini dan menyerahkan hasil penjualan mobilnya tersebut sebesar Rp. 1,7 juta kepada Edhi Sunarso untuk melanjutkan pembangunan patung dirgantara.

****
Selain pembangunan patung dan land mark lainnya, dimasa pemerintahannya Bung Karno juga membangun jembatan semanggi. Pembangunan jemabatan ini merupakan rangkaian paket pembangunan untuk menjalankan perhelatan Asian Games 1962. Dalam tulisan Roso Daras, pada kesempatan sebuah rapat kabinet, Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Sutami, mengusulkan kepada Bung Karno untuk membangun sebuah jembatan guna mengatasi kemungkinan munculnya persoalan kemacatan lalu lintas. Dalam pembangunan jembatan itu, Bung Karno menamakan jembatan semanggi dengan mengunakan filosofi jawa. Menurut Roso Daras, dalam sebuah kesempatan Bung Karno pernah mengemukakan filosofi daun semanggi. Filosofi yang dimaksud adalah simbol persatuan, dalam bahasa jawa ia menyebut “suh” atau pengikat sapu lidi. Tanpa “suh” sebatang lidi akan mudah patah. Sebaliknya, gabungan lidi-lidi yang diikat dengan “suh” menjadi kokoh dan bermanfaat.

Dalam pembangunan ekonomi, Bung Karno senantiasa menekankan kemandirian dan percaya pada kekuatan sendiri (self help and self relience). Diawali dengan kebijakan progresifnya untuk mendirikan Bank Indonesia (BI) pada 15 Desember 1951 dengan nasionalisasi De Javasche Bank atau Bank Java. Kemudian pada tahun 1962 membangun land mark industrialisasi raksasa pertama di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara, yaitu Pabrik Baja Trikora (sekarang Krakatau Steel) yang merupakan mother of industry di Cilegon. Sebagai mother of industry, pabrik baja trikora memiliki peran penting sebagai dasar pembangunan dan perkembangan berbagai jenis indstri lain seperti telokomunikasi, transportasi, elektronik dan industri lainnya. Dan saat ini, pabrik baja trikora yang telah dibangun oleh Bung Karno sebagai salah satu pondasi bagi industri lain sudah tidak lagi dimiliki penuh oleh negara. Padahal Bung Karno pernah berkata “ingat, produksi, ekonomi adalah perutnya negara. Maka itu jamak lumrahlah kalau kaum reaksioner mengkonsentrasikan sabotasenya kepada perut negara lain”. Kalau sudah begini, kita tidak hanya bisa berharap industri dan negara kita tetap bisa berdaulat dan merdeka di tanahnya sendiri.

*****
Jika pada masa awal berdirinya negara ini, Bung Karno dan para pemimpin pada masa itu mampu membangun land mark yang menjadi kebanggaan bangsa, jati diri bangsa, kepribadian bangsa, simbol sikap politik internasional Indonesia dan memiliki fungsi, dapat dipergunakan dengan baik hingga pada masa sekarang ini. Bagaimana dengan keadaan kita sampai dengan hari ini yang belum mampu memberikan sesuatu yang menjadikan kita bangga dan percaya diri sebagai sebuah bangsa. Kita yang pada masa lalu selalu menjadi yang terbaik di Asia Tenggara bahkan diperhitungkan di kancah politik internasional, padahal pada saat itu kondisi ekonomi sedang susah, perdagangan dan ekspor yang terhambat oleh blokade dan konfrontasi dengan Malaysia, pengeluaran negara yang terkuras akibat perang dan mengatasi berbagai pemberontakan, dan instabilitas politik dalam negeri.

Jika benar kondisi ekonomi kita sekarang dikatakan lebih baik dibandingkan dengan kondisi pada masa pemerintahan Soekarno, semestinya kita bisa membangun dan membuat sesuatu yang lebih baik lagi. Dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita sekarang ini yang mencapai angka sebesar Rp 1.435,4 Trilyun, dan Cadangan Devisa Indonesia USD 118,11 miliar pada tahun 2011, kita belum mampu membangun land mark baru yang menunjukkan kemampuan kita sebagai bangsa yang berdikari, percaya pada kekuatan sendiri dan memiliki kepribadian sebagai bangsa yang merdeka sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Kita sudah seharusnya berbenah agar tidak tenggelam dalam perkembangan peradaban dunia. (NASIONALISME)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Toudhani -Wolio Molagi© All Rights Reserved
Hasmina Syarif